Maafkan aku, karena aku telah melakukan semua ini. aku khilaf. sudah aku fikirkan dan sudah aku pertimbangkan, mungkin aku memang salah. salah dalam melakukan semua ini. untuk saat ini, aku tidak mampu untuk menjalaninya, terasa begitu berat di hatiku. sudah kucoba untuk berdamai dengan diriku sendiri, tapi aku tidak mampu. ternyata memang benar kata orang-orang, begitu sulit untuk menasehati diri sendiri.
aku tidak ingin semua ini berakhir, tapi aku tidak sanggup untuk menjalaninya. malam itu ketika aku menanyaimu, kau mengatakan, "kehadiranku tidak pernah menjadi beban bagimu. bagimu, semua teman itu sama, kau tidak pernah membeda-bedakan teman." aku berterima kasih untuk itu. aku salut terhadap dirimu, selama ini kau mampu bertahan untuk berada di dekatku, dengan semua resiko yang kau dapatkan. baik dari orang-orang di sekitar kita, maupun dari diriku sendiri.tapi diriku ini berkata lain, bukannya aku sok tau atau apa, tapi semenjak malam itu,aku merasa malah menambah beban bagimu.
kau mengatakan tidak pernah membeda-bedakan teman. aku percaya padamu. aku bisa merasakannya. aku berterima kasih lagi karena kau masih menganggapku sama dengan yang lainnya. sesungguhnya aku mengakui, akulah yang tidak bisa menganggap semua teman sama. akulah orang yang telah membeda-bedakan teman itu. aku tidak bisa membiarkan orang masuk ke kehidupanku begitu saja dengan leluasanya. aku tidak bisa menerima semua orang dengan baik di kehidupan yang aku jalani. pernah kucoba, tapi aku tidak bisa...
dan kau... kau hadir begitu saja ke dalam kehidupanku. kau masuk ketika tidak seorangpun yang tau. aku menyadari kehadiranmu ketika kau telah leluasa mengaduk kehidupanku. pernah ku berniat untuk mengusirmu keluar dari jalan cerita hidup yang tengah aku jalani, tapi tak bisa. aku tak mampu, aku tak punya kuasa. sang sutradara tak memberi izinya. kau sudah terlanjur mengisi ruang di kehidupanku. sekarang, aku tidak akan pernah untuk bisa rela jika kau pergi meninggalkan kehiduapan yang sedang kujalani ini, kehidupan yang terngah terbengkalai ini. aku akan merasa begitu tersiksa jika kau mendiamiku, seperti yeng pernah kau lakukan. serasa ada yang kosong di dalam dadaku. seolah aku telah tenggelam ke dasar, dan tak mampu kembali ke kepermukaan sendirian, aku membutuhkanmu untuk ada di sampingku.
kau masuk ke kehidupanku tanpa ingin dariku, mungkin begitu juga dengan dirimu, tak pernah menginginkan ada di kehidupanku. aku tidak perbah berharap kau hadir di kehidupanku, seperti kau yang tidak pernah berharap untuk ada di kehidupanku. aku tidak pernah membukakan pintu hatiku untukmu, kau sudah ada begitu saja di dalam kehidupanku. seolah, takdirlah yang menginginkan kau ada di kehidupanku...
aku menudingmu bahwa kau hanya terpaksa mau berteman dengan diriku, dan tentu saja kau marah di saat itu kepadaku. siapa sih yang nggak bakalan marah mendapat tudingan yang seperti itu? aku bisa memaklumi akan hal itu. dan aku tidak menyalahkanmu akan kesalahan yang tengah aku buat.
aku tau kau merasa kecewa terhadapku, karena aku telah berani bertanya dengan anggapan yang seperti itu kepadamu. aku lebih kecewa lagi. kecewa terhadap diriku sendiri. kenapa aku tidak bisa mempercayai diriku sendiri. aku menuding orang tidak bisa menerimaku apa adanya, sesungguhnya akulah yang tidak bisa menerima diriku sendiri apa adanya. sudah saatku aku mengakui kesalahanku sendiri. perlu kamu ketahui, tidak pernah terlintas di dalam benakku ini kalau kau hanya memanfaatkanku. aku percaya dengan ketulusanmu. dan aku tau dengan ketulusanmu. aku percaya dengan apa yang telah kau katakan padaku.
aku saat ini mempunyai banyak masalah. banyak polemik yang tengah aku hadapi. dan kau mengatakan kau juga punya banyak masalah. aku tau, kita sama-sama punya banyak masalah. siapa sih di dunia ini yang luput dari masalah? kurasa tidak seorangpun....tapi, masalah yang tengah kau hadapi jauh berbeda dengan masalah yang tengah aku hadapi. umumnya, masalah yang aku hadapi berasal dari dalam diriku sendiri. aku yang membuat masalah itu menjadi ada. dan aku begitu mengedepankan perasaanku. sehingga membuat ku menjadi begitu lemah.
aku tidak ingin menjadi beban bagi dirimu, dengan menambah masalahmu dengan masalah yang ternah aku hadapi. biarlah masalah ini kuhadapi sendiri, kuselesaikan sendiri, kutanggung sendiri, semampu yang bisa aku lewati. dan setelah semua ini, aku akan menganggapnya telah usai. tidak akn pernah kupermasalahkan lagi.
memang benar ucapanmu, sahabat tidak akan selamanya bersama. aku telah menyadari akan hal itu. jika saat ini aku mulai berdiuam diri, bukan berarti aku sudah tidak ingin menjadi sahabatmu lagi. aku hanya ingin berkompetelasi, menenangkan diriku ini yang sedang kacau.
dan jika di masa kebersamaan yang telah dan pernah kita lewati, aku membuatmu tersinggung atau sakit hati oleh perbuatanku tersebut, aku minta maaf. maaf yang sebesar-besarnya. aku akan berusaha untuk tidak menjadi pengganggu di dalam kehidupanmu lagi. berusaha untuk tidak menjadi parasit di dirimu lagi... terlebih di pagi hari. yang biasanya menjadi waktu bagiku untuk mengganggumu. sekali lagi, MAAFKAN AKU ATAS SEGALANYA SELAMA INI...
("from my best friend, aku tidak akan pernah melupakanmu, terserah jika kau ingin melipakanmu, aku akan begitu merinduimu...")
Recent Comments