detik-detik terus berputar...
menit-menit kian merambat...
malam-malam bergeser...
hari-hari berlalu tanpa henti...
dan ,
halaman-halaman kalender turut berganti...
bunga-bunga yang mekar dan harum layu dimakan waktu, lepas dari tangkainya, jatuh ketanah dan berubah busuk...
daun-daun yang rindang, hijau dan elok...
ranting-ranting ohon yang kuat dan segar...
kering dan bertebaran menjadi sampah kota...
dari tahun ke tahun sosok anak gembala berganti bentuk dan wajah-wajah binatang ternak ikut berubah.
sejuta bayi lahir ke bumi dan sejuta calon mayat meninggalkan panggung permainan tanpa kata-kata perpisahan.
aq, seorang manusia yang kesepian,
merasa sekarang hidup sudah tidak berarti,
karena semua yang dijalani saat ini sudah terjadi dari dahulu,
dan di ulang untuk yang kesekian kalinya untuk saat ini...
baik sengaja atau tidak sengaja,
baik diketahui atau tidak diketahui...
adakah tugas-tugas yang lebih menarik yang memang harus dan perlu diketahui dalam hidup?
apa yang harus diketahui tentang hidup?
untuk apa manusia hidup?
untuk diapakan lembaran-lembaran waktu ini?
adakah sekolah khusus yang akan mengajari dan mengupas mengapa aku dilahirkan ke dunia, mengapa aku jadi ada, dan kenapa yang bernyawa pasti akn mati?
apa bedanya dunia dengan ada dan ketidak-adaanku?
hadiah atau ancamankah hidup ini?
adakah aku ada karena kebetulan ada ataukah keharusan untuk ada?
kenapa untuk tiada harus melewati tragedi dan misteri?
kenapa semuanya akan berakhir?
apakah hidup hanya sekedar melanjutkan kehidupan, mengisi kehendak dan menunggu kematian?
lantas untuk apa semua tetek bengek ini jika semuanya akan berakhir rata?
adakah orang yang mengetahui secara pasti kapan hari kematiannya akan tiba?
jika ada, maka siapa?
jika tidak, lantas kenapa?
mengapa aku mempertanyakan hal-hal semacam ini?
dan mengapa otakku tak sanggup melepaskan persoalan-persoalan serupa ini?
ya, mengapa?
Tak ada cepercik pun kebencian yang terselip di relung hati ini.
tapi hanya bercak-bercak kekecewaan yang tersisa.
mungkin bercak ini kan memudar dan kemudian menghilang. . .
hilang seiring bergulirnya waktu yang tak henti berputar. . .
jika kutelusuri masa yang telah berlalu. . .
tak 'kan terganti tetesan demi tetesan embun itu. . .
tetesan yang memberi kesejukan dikala nurani ini gersang.
tapi jika kukembali ke masa berpijakku,
bercak-bercak itu terlihat jelas sekalipun oleh si buta.
kini ku hanya bisa menatap pemberi kesejukanku di kejauhan,
karena raga dan nuraniku tak bisa menggapainya.
jika bercak ini hilang. . .
mungkin ku bisa menggapainya kembali.
memang terasa menyakitkan,
tapi hanya waktu yang bisa merubah segalanya.
bertanyalah pada sang waktu. . .
suruh ia berputar dengan cepat,
agar ia bisa memberikan jawaban semuanya,
dan berakhirlah kesakitan,
yang ku dan kau rasa. . .
(untuk seseorang yang belum mengerti akan hisup yang tengah aku jalani ini)
aku terlambat !
terlambat untuk menyadarinya.
kini ia telah pergi.
dan rasanya, tidak mungkin akan kembali lagi. . .
dan aku baru menyadari di hari kepergiannya.
kalau ternyata aku telah jatuh cinta padanya. . .
namun, . .
aku belum pernah berbicara secara spesifik dengannya.
aku tidak tau kenapa aku bisa menyukainya. . .?
kenapa aku bisa jatuh cinta padanya. . . ?
mungkin. . .
ia mirip dengan seseorang yang dulu pernah ada di hatiku.
pernah mengisi ruang yang ada di hatiku.
terlebih bibir yang dimilikinya. . .
melihat ia di hadapanku,
aku teringat kembali dengan orang yang dulu aku cintai,
orang yang dulu pernah memberikan cintanya untukku.
aku merindukannya.
aku ingin merangkulnya kembaki seperti dulu aku merangkulnya.
dan kini,
aku telah mengalami cinta sesaat. . .
atau cinta karena ia mirip dengan orang yang aku cintai.
aku telah berusaha,
dalam waktu dekat ini untuk kembali bertemu dengan orang yang aku cintai.
terima kasihku untukmu,
karena dirimu. . .
aku ingat dengan kekasihku. . .
kalau aku harus kehilangan pujaan hatiku (aku tau saat itu akan tiba), aku harus siap dari sekarang. aku akan berusaha semampu yang aku bisa.aku akn menghindar dan menjaduh dari dirnya bila perlu. walau rasa yang aku miliki untuk dirinya tidak akan pernah berubah, apalagi berkurang. karena aku merasa, tidak akan begitu menyakitkan rasa kehilangan dirinya suatu saat nanti, jika aku sudah terbiasa tanpa ada dirinya di sisiku.
tapi jika aku harus melihat kebergiaanya di saat kebersamaan adalah segalanya bagiku, akan terasa begitu menyakitkan. itu sama saja dengan membunuhku secara perlahan-lahan.
aku tidak akan kuat. aku akan hancur. tenggelam jauh ke dasar, dan akan sulit untuk muncul kembali kepermukaan.
meski saat ini ia masih adadi dekatku, lubang itu sudah mulai terasa ada di hatiku, yang semakin hari semakin melebar.
aku akan menangis, walau sekarang aku sudah mulai menangis.
dan saat ini aku masih bersyukur, karena aku masih bisa melihat dan menikmati senyumannya yang 10.000 watt, senyuman yang akan membuatku akan begitu sulit untuk melepasnya, walau saat ini rasa kehilangan itu sudah mulai terasa.
aku tidak tau apalagi yang harus kuperbuat sebelum kepergiannya yang akan membuatku kehilangan sebuah kebersamaan dengannya, mungkin kehilangan untuk selamanya akan orang yang aku sayangi seperti dirinya...
aku begitu takut untuk sendiri dalam menghadapi kehidupan ini. ini adalah luka lama yang telah lama sembuh bagiku. dan sebentar lagi akan kembali tercabik kembali dan berdarah-darah seperti dulu lagi. bahkan akan lebih parah.
dulu aku tenggelam jauh ke dasar, ada dirinya yang menarikku kepermukaan. tapi sekarang, jika ia telah pergi kembali, aku sudah tentu akn tenggelam ke dasar seperti dulu lagi. bahkan akan lebih dalam. siapa yang akan menarikku kembali kepermukaan...?siapa lagi yang akan aku harapkan...?
hanya ia tumpuan hatiku saat ini, dan mungkin juga untuk kedepannya. tak akan ada lagi penggantinya. aku akan tetap tenggelam di dasar. hidup di dalam kehampaan lubang yang menganga.
Recent Comments